Loading color scheme

Taman Nasional Lore Lindu
Dilihat: 818

Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman nasional merupakan salah satu jenis kawasan konservasi karena dilindungi, biasanya oleh pemerintah pusat, dari perkembangan manusia dan polusi. Di wilayah Sulawesi Tengah sendiri, Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu Taman Nasional dengan daya tarik dan kekayaan alam yang luar biasa yang telah di tetapkan sebagai cagar biosfer sejak tahun 1977 oleh UNESCO. 

Secara geografis, taman ini memiliki luas kawasan sekitar 217.991,18 Ha dan berada di dua wilayah yaitu Kabupaten Sigi dan Poso dengan 199 * 58’ – 120* 16’ Bujur Timur dan 1* 8’ – 1* 3’ Lintang Selatan. Apa saja yang dapat anda temukan saat mengunjungi Taman Nasional Lore Lindu?

Keanekaragaman Flora dan Fauna

Berbagai jenis tumbuhan yang ada di Taman Nasional Lore Lindu sangatlah beragam dan bersifat endemik baik dari segi komposisi taksonomi maupun karakteristik ekologi. Jenis tumbuhan yang dapat di jumpai di kawasan ini antara lain ; beringin (ficus spp), Rotan ( Callamus spp), Leda (Eucalyptus deglupta), Damar (Agathis dammara), Aren (Arenga piñata) dan Artocarpus spp, yang kulit pohonnya kerap kali di gunakan sebagai bahan pembuatan pakaian kulit pohon (fuya) oleh warga setempat sejak ratusan tahun yang lalu hingga saat ini. Selain itu, terdapat 88 jenis anggrek yang dapat dengan mudah di temukan di kawasan TMNLL di antaranya jenis Pakis (Asplenium spp dan Platycerium sp.) serta spesies yang cukup special, Kantung Semar (Nepenthes sp)

Dari segi keanekaragaman Fauna, Taman Nasional Lore Lindu memiliki sekitar 200 jenis dan 37 jenis di antaranya termasuk fauna yang di lindungi di antaranya Anoa (Babalus quarlesi dan babalus deppressicornis), Rusa (Cervus timorensis), Babi Rusa (babyrousa baburussa), Kuskus (Phalanger celebensis dan Phalanger ursianus), Monyet Hitam (Macaca tonkeana) dan musang coklat (Macrocephalon maleo).

Taman Nasional Lore Lindu juga menjadi habitat bagi 267 jenis burung di Sulawesi yang 97 jenis di antaranya merupakan spesies endemik. Secara Internasional, kawasan ini di kenal sebagai kawasan suaka burung yang penting. Beberapa jenis burung endemik yang dapat di temukan di kawasan ini antara lain ; Nuri Sulawesi (Tanygnatus sumatrana), Loriculus exilis, Trichologsus platurus, Kakatua (Cacatua suiphurea), Rangkong (Rhyticerros cassidix), Pecuk Ular (Anhinga rufa), Rallus Plateni, Maleo (Macrochepalon maleo) dan Megapodius fecycynet dll. Beberapa titik yang biasa di gunakan untuk melakukan bird watching di antaranya Desa Kulawi, Anaso – Danau Tambing, Pakuli, Danau Lindu dan Lembah Napu.

Wisata Megalith

Tersebar di sekitar daerah Napu, Besoa dan Bada, patung-patung batu Megalith yang berada di kawasan TMNLL merupakan salah satu jenis megalith terbaik apabila di bandingkan dengan patung-patung sejenis di Indonesia. Situs Megalith tersebut memiliki pengerjaan yang baik, sederhana dan anggun serta terbuat dari bahan batu jenis granit dengan tinggi rata-rata 1.5 – 2.5 Meter sampai 4 meter. Terdapat lima klasifikasi patung-patung yang ada di TMNLL berdasarkan bentuknya :

Patung-patung Batu ; memiliki ciri-ciri manusia, tetapi hanya kepala, bahu dan kelamin yang terlihat jelas.

Kalamba ; menyerupai jambangan besar, jenis yang paling banyak di jumpai.

Tutu’na ; piring-piringan dari batu, kemungkinan besar merupakan tutup kalamba.

Batu Dakon ; batu-batu rata sampai cembung, menggambarkan saluran-saluran, lubang-lubang tidak teratur dan lekukan lekukan lain.

Lain – lain ; Mortar batu, tiang penyanga rumah dan bentuk penyangga lain di temukan.

Salah satu lokasi yaitu Lembah Besoa memiliki landscape alam yang sangat indah. Pemukiman penduduk yang di kelilingi persawahan, savanna alam dan hutan yang lebat akan menyambut anda saat memasuki kawasan ini. Lembah Behoa berjarak sekitar 157 KM dari Kota Palu atau sekitar 4 – 5 jam perjalanan. Untuk Kondisi jalan, perjalanan menuju tempat ini cukup bagus namun hanya sampai di Lembah Napu saja. Untuk kondisi jalan dari lembah Napu menuju Lembah Besoa masih cukup banyak yang rusak dan sempit namun masih bisa di lalui dengan kendaraan roda empat.  Selain itu, terdapat dua buah penginapan di Desa Doda, bagi pengunjung yang ingin bermalam di Lembah Besoa. Terdapat beberapa petunjuk arah serta papan informasi di beberapa situs megalith yang tersebar di Lembah Besoa.

Situs Pokekea yang ada di Desa Besoa dipenuhi batu-batu besar berbentuk tong yang semuanya tersebar di atas padang rumput. Beberapa batu-batu besar tersebut dihiasi dengan berbagai macam relief. Masyarakat setempat menyebut tong batu itu dengan nama kalamba, sedangkan tutupnya disebut tuatena. Kalamba berbentuk silinder dengan bagian dalamnya di lubangi menyerupai tong besar memiliki ukuran tinggi yang bervariasi (1,5-2,7 meter, dengan diameter 1-1,8 meter) diyakini memiliki dua fungsi. Fungsi pertama sebagai penampungan air dan yang kedua berfungsi sebagai kuburan. Sebagian besar Kalamba yang terdapat di situs Pokekea ini memiliki ciri khas di bagian badannya berupa garis geometris dan relief wajah manusia. Kalamba-kalamba tersebut berbentuk bulat silindrik yang pada bagian tengahnya terdapat lubang. Kalamba ini memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ukuran terbesar memiliki tinggi sepanjang 188 cm, diameter tubuh 223 cm, kedalaman lubang 78 cm dan ketebalan bibir sekitar 22 cm. Untuk ukuran yang kecil, patung tersebut memiliki ukuran tinggi sepanjang 90 cm, diameter badan 76 cm, kedalaman lubang 62 cm dan tebal bibir sekitar 6 cm.

Selain Kalamba, di Situs Pokekea ini terdapat pula patung batu yang mirip manusia. Patung manusia itu memiliki ukiran wajah yang khas. Ukiran wajah serupa pun tak hanya ada di Area Pokekea, tetapi juga di berbagai situs megalitikum yang tersebar di sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Masyarakat menyebut patung mirip manusia ini dengan sebutan patung suami-istri. Alasannya, tentu saja karena patungan itu berpasangan dan mirip seperti sepasang suami-istri. Berdasar penelitian arkeologi, bebatuan megalith yang ada di Sulawesi Tengah diperkirakan patung tersebut telah ada sejak 3.000 tahun SM, dan yang termuda dibuat pada sekitar tahun 1.300 SM.

Juru pelihara situs Pokekea, Sunardi, menyebutkan bahwa di situs ini terdapat 8 buah Kalamba, 4 buah arca megalith, 14 buah batu dokon, 18 buah batu kerakel, 5 buah dolmen, 5 buah altar batu, 2 buah batu tetralit, 1 buah batu bergores serta 2 buah palung batu. Semuanya tersebar dalam satu kawasan. Sampai saat ini, masih cukup banyak misteri batu purbakala yang belum terpecahkan. Seperti batu yang digunakan sebagai kalender manusia purbakala. Sunardi mengaku belum ada arkeolog yang mampu mengartikan makna dari goresan batu yang ada pada kalender tersebut. Bahkan disebutkan bahwa Pokekea merupakan cikal bakal atau nenek moyang suku yang ada di Sulawesi. 

Tidak jauh dari Pokekea, wisatawan pun dapat mengunjungi situs - situs Tadulako yang berjarak sekitar 10 menit dari lokasi. Di Cagar Budaya Megalitik Tadulako ini tidak memiliki banyak batu megalit seperi lokasi lainnya. Lokasi ini hanya memiliki satu patung berjenis kelamin laki-laki setinggi 2 meter dan beberapa kalamba di sekitarnya. Walaupun berdiri sendirian, Patung Tadulako ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Patung Tadulako berada di ketinggian 756 meter mdpl dan berbentuk bulat lonjong serta terbuat dari batu granit dengan tinggi sekitar 196 sentimeter plus lebar sekitar 60 sentimeter. Dahulu kala, megalit ini di percaya sebagai sebuah perwujudan terhadap pemujaan arwah nenek moyang yang di muliakan oleh masyarakat setempat. Situs Tadulako sendiri di tempatkan sedikit lebih tinggi dan menghadap ke arah utara karena di artikan sebagai tempat datangnya arwah nenek moyang. 

Secara keseluruhan, situs-situs ini memiliki nilai sejarah yang tinggi di Indonesia bahkan di dunia karena menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Tengah telah memiliki ilmu pengetahuan yang sudah sangat tinggi sejak ribuan tahun yang lalu. Peneliti masih terus menggali informasi terkait cara pembuatan situs ini karena untuk membuat beberapa patung seperti itu cukup rumit dan memerlukan ‘teknologi’ tersendiri. 

 

Wisata Danau

 

Taman Nasional Lore Lindu juga memiliki wisata Danau yang indah dan penuh dengan kekayaan flora dan fauna seperti Danau Lindu dan Danau Tambing. Secara administratif, Danau Lindu terletak di kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi terletak di ketinggian 1.000 mdpl dengan luas 3.470 H. Danau Lindu dapat di tempuh sekitar 4 jam dengan jarak sekitar 79 KM dari Kota Palu. Untuk mengunjungi lokasi ini dengan kendaraan roda empat, anda harus berhenti di area Sidaunta untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan roda dua karena fasilitas jalan yang belum memadai. Meskipun begitu, terdapat fasilitas pendukung seperti Pondok Wisata, Penginapan, Shelter pengamatan Macaca tonekaka dan jalur trekking di sekitar area Danau Lindu. 

Panorama Danau Lindu masih sangat alami dengan air danau yang jernih serta pemandangan yang menyegarkan. Wisatawan bisa berperahu ataupun sekedar memancing di tepi danau atau menyewa perahu. Populasi ikan mujair cukup melimpah dan merupakan sumber pendapatan bagi nelayan di sekitar Danau Lindu. Di sekitar danau ini, wisatawan juga dapat mengamati beberapa burung endemik seperti Elang, Rangkong, Jalak Tunggir Merah, Nuri, Dri Gunting dan sebagainya. Informasi tentang Danau Tambing dapat dilihat selengkapnya disini

Dengan kekayaan alam serta sejarah yang di miliki oleh Taman Nasional Lore Lindu, lokasi ini patut menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib untuk anda kunjungi jika sedang berada di Sulawesi Tengah. AA

Penulis: Arba Arief (Travel Blogger & Tour Guide Sulawesi Tengah)

Source of Picts : Instagram >> @antarin_indonesia_reizen , @swabian_abroad , @imranrosadi_imee & Taman Nasional Lore Lindu Video

 

Leave your comments

Comments

We use cookies to improve our website and your experience when using it. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. To find out more about the cookies we use and how to delete them, see our privacy policy. By clicking "Agree" button, you accept cookies from this site and you give permission to use your personal data within the EU's General Data Protection Regulation (GDPR) To find out more about the cookies we use and how to delete them, see our privacy policy.

  I accept cookies from this site.
EU Cookie Directive plugin by www.channeldigital.co.uk