Loading color scheme

Tari Raego
Dilihat: 989

Raigo atau Raego adalah tarian dan syair tradisional yang berasal dari Sulawesi TengahIndonesia. Kesenian ini hidup di masyarakat Suku Kulawi, Suku Kaili, dan Suku Bada. Suku bangsa ini menamakan Raigo dengan penyebutan berbeda. Suku Kulawi menyebut Raego, Kaili menyebut Rego, dan Bada menyebut Raigo. Raigo adalah menari dalam formasi lingkaran sambil menyanyikan syair-syair panjang dalam bahasa Uma tua.

Bahasa ini merupakan bahasa daerah yang sudah tidak dipakai dalam percakapan sehari-hari.Syair rego berbeda-beda karena menyesuaikan dengan acara yang dibuat. Jika Raigo dimainkan setelah panen, syairnya tentang proses membuka ladang, menanam, menyiangi, hingga memanen. Jika Raigo dimainkan sebagai penghiburan keluarga yang berkabung, syairnya berisi siklus hidup manusia dari lahir sampai mati serta menceritakan kebaikan orang yang mati saat masih hidup Kata Raigo bermakna menari atau tari. Raigo dipercaya oleh masyarakat pendukungnya lahir dan berkembang melalui proses mitos. 

Mitos ini kemudian diwujudkan dalam bentuk ritual dengan gerakan dan ungkapan yang bernilai sakral dan penuh magis.Tarian ini menjadi bagian dari pelaksanaan upacara adat, khususnya dalam upacara syukur panen padi dan beberapa upacara tradisional lainnya.Raigo menggambarkan suatu kemenangan dalam usaha, kegembiraan, serta rasa syukur atas hasil panen. Luapan kegembiraan ini diekspresikan melalui gerakan dan ungkapan dalam bahasa daerah yang berisikan pemujaan terhadap Sang Pencipta. keunikan tarian ini adalah tidak adanya iringan dari instrumen atau alat musik.

Tarian ini hanya diiringi oleh vokal tradisi yang berisi syair-syair ritual pelaksanaan upacara itu sendiri. Walaupun demikian, ada Raigo yang dibawakan dengan diiringi musik, seperti tabuhan gendang dan gitar, terutama saat upacara sesudah panen atau pementasan kesenian. Lagu-lagu pengiring tarian raigo biasanya dinyanyikan dalam tempo con brio, delce, sesuai dengan tema gembira. Lagu pada pengiring perang disebut 'inolu'. Lagu ini dinyanyikan dalam tempo de Marcia, forte, atau presto. Tempo lagu disesuaikan dengan tema heroik dan patriotik.

Setiap lagu memiliki ciri yang sama, yaitu pengulangan kata dan syair hingga beberapa kali. Perbedaan antara lagu dan lainnya terletak pada melodi dan tempo berwarna tinggi yang tetap sama bentuknya.Ungkapan seruan hanya terdapat pada lagu-lagu perang sebagai selingan yang tidak boleh ditinggalkan di antara syair lagu.[1]Lagu-lagu pengiring Tari Raigo mula-mula dinyanyikan secara solo dan dipimpin oleh tapanguli raigo, kemudian disusul dengan suara bersama pria. Setelah bait yang dinyanyikan dengan suara bersama pria berakhir, kemudian seorang bernyanyi solo, yang disebut sebagai 'toonama'. Lalu, disusul lagi dengan suara bersama. Syair dan lirik untuk semua jenis lagu disebut 'oila' dan oleh vokal disebut 'manoulia'.

Tarian ini bersifat kolosal, artinya dapat dimainkan oleh banyak orang. Tarian ini turut menyemarakkan festival gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 di Sulawesi Tengah. Tarian ini dipentaskan untuk menyambut sekaligus menghibur para pengunjung yang hadir. Raigo dalam acara itu melibatkan 40 orang penari dan 10 orang pemain musik Pelaksanaan Raigo sedikit berbeda dari tarian tradisi lainnya yang ada di wilayah Sulawesi Tengah. Penyelenggaraannya secara utuh hanya dapat dilihat pada pelaksanaan upacara-upacara adat di daerah ini. Raigo memiliki kedudukan penting pada pelaksanaan upacara adat. Misalnya, dalam Suku Kulawi, ada beberapa upacara adat, antara lain:[3]

  1. Nompioni, upacara membuka lahan atau masuk hutan
  2. Vunca Ada’ Mpae, upacara panen
  3. Powutu, upacara kematian
  4. Potapahi Tana, upacara cuci bumi atau tolak bala
  5. Hslis Todea, upacara perkawinan
  6. Mancumani Rotompo, upacara menanggal gigi

Pelaksanaan berbagai upacara adat, khususnya yang berkaitan dengan Raigo pada Suku Kulawi, masih terus dilaksanakan para orang tua ('totuangata') dan anak-anak muda. Syair-syair Raego melalui vokal yang saling menyahut sekaligus menjadi pengiring bagi tarian itu sendiri. Syair-syair tersebut memiliki makna terhadap pelaksanaan upacara adat. Di dalamnya, dapat terungkap fungsi dan kedudukannya pada masyarakat setempat. Suku Kulawi sebagai pemilik budaya Raigo tidak mengenal tulisan. Pewarisan budaya pun hanya dapat dilakukan secara lisan. Peniruan tingkah laku secara keseluruhan hanya mengandalkan ingatan. Tidak semua lapisan Suku Kulawi berkesempatan untuk memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan dalam pelaksanaan Raigo. Hanya beberapa anggota masyarakat berusia lanjut yang menjadi pelaku upacara ini.Pengetahuan dan keterampilan melakukan tarian ini menjadi terbatas pada generasi yang menjadi pelaku tarian ini. Para penari rata-rata sudah berusia lanjut. Raigo dianggap hanya diperuntukkan bagi para 'totuangata' (orang yang sudah berumur). Jumlah pelaku tarian ini pun semakin berkurang. Apalagi, penyebarannya tidak merata di semua lapisan masyarakat 

Leave your comments

Comments

We use cookies to improve our website and your experience when using it. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. To find out more about the cookies we use and how to delete them, see our privacy policy. By clicking "Agree" button, you accept cookies from this site and you give permission to use your personal data within the EU's General Data Protection Regulation (GDPR) To find out more about the cookies we use and how to delete them, see our privacy policy.

  I accept cookies from this site.
EU Cookie Directive plugin by www.channeldigital.co.uk