Loading color scheme

Pokekea, Situs Megalithikum yang Penuh Misteri.
Dilihat: 720
Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah tak hanya menawarkan keanekaragaman flora dan fauna yang mengagumkan, tapi juga misteri. Di kawasan yang ditetapkan sebagai cagar biosfer pada 1977 ini, terdapat situs prasejarah yang misterius. Situs megalitikum Pokekea salah satunya.Situs yang terletak di Lembah Besoa Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso ini dapat ditempuh hampir 5 dan 6 jam dari Palu. Cukup lama memang, tetapi pemandangan yang disuguhkan Lembah Besoa tidak mengecewakan.
Ada berbagai jenis batu megaliti di situ ini. Situs Pokekea dipenuhi batu-batu besar berbentuk tong. Semuanya tersebar di padang rumput. Beberapa batu-batu besar itu dihiasi relief. Masyarakat setempat menyebut tong batu itu dengan nama kalamba, sedangkan tutupnya disebut tuatena. Kalamba yang berbentuk silinder dengan bagian dalamnya dilubangi menyerupai bentuk tong besar dengan ukuran tinggi bervariasi 1,5-2,7 meter, dengan diameter 1-1,8 meter ini diyakini memiliki dua fungsi. Fungsi pertama diceritakan sebagai penampungan air, dan yang kedua sebagai kuburan. Sebagian besar Kalamba yang terdapat di situs Pokekea memiliki ciri khas di bagian badannya, berupa garis geometris dan relief wajah manusia. Kalamba-kalamba tersebut berbentuk bulat silindrik, dan pada bagian tengahnya terdapat lubang. Kalamba yang berada di sini mempunyai ukuran yang berbeda-beda, dengan yang terbesar mempunyai ukuran tinggi 188 cm, diameter tubuh 223 cm, kedalaman lubang 78 cm, kedalaman 65 cm dan tebal bibir 22 cm. Untuk ukuran yang kecil memiliki tinggi 90 cm, diameter badan 76 cm, kedalaman lubang 62 cm dan tebal bibir 6 cm.
 
Selain Kalamba, di Pokekea ada juga patung batu yang mirip manusia. Patung manusia itu memiliki ukiran wajah yang khas. Ukiran wajah serupa tidak hanya ada di Pokekea, tetapi juga di berbagai situs megalitikum yang tersebar di sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Masyarakat menyebut patung mirip manusia ini dengan sebutan patung suami-istri. Alasannya, tentu saja karena patungan itu berpasangan dan mirip pasangan suami-istri. Berdasar penelitian arkeologi, bebatuan megalith yang ada di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal dari tahun 3.000 SM, dan yang termuda dibuat pada sekitar tahun 1300 SM.
 
Juru pelihara situs Pokekea, Sunardi menyebut di situs ini terdapat 8 buah Kalamba, 4 buah arca megalith, 14 buah batu dokon, 18 buah batu kerakel, 5 buah dolmen, 5 buah altar batu, 2 buah batu tetralit, 1 buah batu bergores, dan 2 buah palung batu. Semuanya tersebar dalam satu komplek. Masih banyak misteri batu purbakala ini belum terpecahkan. Seperti batu yang digunakan sebagai kalender manusia purbakala. Sunardi mengaku belum ada arkeolog mampu menyikap makna goresan batu kalender itu. Bahkan disebutkan Pokekea merupakan cikal bakal atau nenek moyang suku yang ada di Sulawesi.
 
Masuk ke situs ini tanpa dipungut biaya. Pengunjung hanya perlu mengisi data diri pada buku tamu. Selain itu, mereka harus tetap menjaga kelestarian dan kebersihan kawasan obyek wisata tersebut. Tidak ada ditemukan aksi vandalisme pada batu-batu, menurut Sunardi hal ini karena pihaknya tak hentinya mengingatkan pengunjung bagaimana sebaiknya berkunjung ke situs purbakala ini.
 
Arca ini sungguh menakjubkan dan tidak ada duanya di Indonesia bahkan dunia ini yang menunjukkan bahwa Sulteng sudah memiliki ilmu pengetahuan yang sudah sangat tinggi. Seperti halnya megalitik Pokokea yang dibentuk dari batu oleh masyarakat pra sejarah yang salah satunya digunakan untuk penampungan air. Ini memerlukan teknologi tersendiri untuk membuatnya. Ada batu yang dibentuk menyerupai manusia yang menunjukkan peradaban yang luar biasa. Luar biasa karena masyarakat pra sejarah sudah bisa membuat seperti itu.
 
Tidak jauh dari Pokekea terdapat situs Situs Tadulako yang berjarak hanya sekitar 10 menit berkendara. Di Cagar Budaya Megalitik Tadulako tidak banyak batu megalitnya, hanya ada satu patung berjenis kelamin laki-laki setinggi 2 meter dan beberapa kalamba di sekitarnya. Walaupun sendirian, patung Tadulako ini memiliki pemandangan yang luar biasa. Patung Tadulako berada di ketinggian 756 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berbentuk bulat lonjong terbuat dari batu granit dengan tinggi sekitar 196 sentimeter dan lebar 60 sentimeter. Dahulu kala, megalit ini dianggap sebagai sebuah perwujudan terhadap pemujaan arwah nenek moyang yang dimuliakan masyarakat setempat. Tadulako sendiri ditempatkan agak tinggi dan menghadap ke arah utara, karena diartikan sebagai tempat datangnya arwah nenek moyang.
 
Sangat disayangkan kedua situs megalitik di Lembah Besoa ini belum dipelihara dan dikelola dengan baik sebagai destinasi wisata. Tidak ada papan keterangan tentang bebatuan megalit yang ada di sana. Yang tersedia hanya papan penunjuk nama situs. Akses jalan menuju megalith Tadulako dibiarkan tertutup dengan rumput dan alang-alang. Bahkan rumah adat disisi kiri jalan sebelum masuk Tadulako dibiarkan hancur. Rumah adat Tambi ini dengan atap berbentuk atap piramida dan dilapisi oleh daun rumbia serta beberapa ijuk yang tidak utuh lagi. Bagian bawah dari rumah ini disangga oleh kayu dan tidak memiliki dinding pelindung. Rumah Tambi ini digunakan oleh para bangsawan kerajaan. Mereka tinggal di sini untuk hidup dan berumah tangga. Rumah ini biasanya memiliki tanduk kerbau pada bagian atasnya untuk menandakan status sosial penghuninya. Semakin banyak atau besar tanduk kerbau, status mereka semakin tinggi. Namun, hal itu bukan berarti Lembah Besoa tidak layak dikunjungi. Misteri batu megalit dan keindahan alamnya pasti akan membuat kita terkagum. Yang paling penting, jangan meninggalkan jejak, baik sampah atau coretan di patungnya.(Ikhsan Madjido)

Leave your comments

Comments

We use cookies to improve our website and your experience when using it. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. To find out more about the cookies we use and how to delete them, see our privacy policy. By clicking "Agree" button, you accept cookies from this site and you give permission to use your personal data within the EU's General Data Protection Regulation (GDPR) To find out more about the cookies we use and how to delete them, see our privacy policy.

  I accept cookies from this site.
EU Cookie Directive plugin by www.channeldigital.co.uk